Sebagai bentuk pendekatan pembinaan yang inklusif, panitia juga menghadirkan kelas festival serta Best of The Best yang digelar pada Minggu (14/12). Kelas ini dirancang untuk membantu anak-anak mengatasi kendala mental, khususnya rasa takut saat bertanding.
“Kami membuka kelas Best of The Best untuk kategori pra-pemula, pemula, dan kadet. Secara keseluruhan, terdapat lima kategori besar dengan lebih dari 24 kelas pertandingan,” papar Zulkarnain.
Awalnya, turnamen ini direncanakan khusus bagi atlet Kota Palu guna kebutuhan pendataan internal. Namun, atas masukan dari daerah sekitar seperti Sigi dan Donggala (Pasigala), panitia akhirnya membuka ruang partisipasi yang lebih luas.
“Karena jumlah atlet di daerah tetangga masih terbatas, kami sepakat untuk menggabungkan keikutsertaan. Meski begitu, untuk kebutuhan database internal, atlet Kota Palu tetap kami pisahkan,” pungkasnya. (*)