Truestorysport – Sriwijaya FC menutup perjalanan putaran kedua Pegadaian Championship 2025/26 dengan catatan kelam. Tim berjuluk Laskar Wong Kito harus menelan kekalahan telak 0- saat bertandang ke markas Banten pada laga pamungkas yang digelar di Banten International Stadium, Serang, Kamis (29/1/) malam.

Hasil tersebut menjadi kekalahan terbesar Sriwijaya FC sepanjang musim, bahkan tercatat sebagai salah satu paling mencolok dalam sejarah kompetisi kasta kedua sepak .

Kekalahan itu kontras dengan kejayaan Siriwjaya yang meraih gelar juara Liga Indonesia dan Piala Indonesia musim 2007/2008.

Sejak menit awal, Sriwijaya FC tampak tak mampu mengimbangi agresivitas tuan rumah. Baru satu menit laga berjalan, gawang Sriwijaya FC sudah jebol lewat gol Makan Konate, yang membuka kran gol Adhyaksa FC.

Dominasi tim tuan rumah terus berlanjut tanpa perlawanan berarti. Lini pertahanan Sriwijaya FC dibuat kocar-kacir oleh tekanan bertubi-tubi, dengan Alvaro Silva tampil sebagai mimpi buruk bagi Laskar Wong Kito. Hingga turun minum, Sriwijaya FC sudah tertinggal jauh dengan skor 0-7.

Memasuki babak kedua, situasi tak banyak berubah. Adhyaksa FC tetap bermain agresif dan menambah delapan gol tambahan. Kombinasi serangan cepat, efektivitas penyelesaian akhir, serta rapuhnya lini belakang Sriwijaya FC membuat skor terus membengkak hingga peluit panjang berbunyi dengan kedudukan 15-0.

Kekalahan ini melampaui rekor kekalahan terbesar Sriwijaya FC sebelumnya di musim yang sama, saat dibantai FC Bekasi City 0-7 pada 16 2026.

Sepanjang Pegadaian Championship 2025/26, Sriwijaya FC memang kerap menelan hasil negatif, baik di kandang maupun tandang. Laskar Wong Kito beberapa kali kebobolan dalam jumlah besar, termasuk kalah 0-5 dari Sumsel United dan 2-7 dari Garudayaksa FC.

Rentetan hasil buruk tersebut menjadi gambaran nyata krisis mendalam yang tengah melanda kebanggaan Sumatera Selatan itu.

Selain persoalan teknis di lapangan, berbagai isu non-teknis seperti keterbatasan finansial, kedalaman , serta inkonsistensi tim turut memengaruhi performa.

Laga kontra Adhyaksa FC pun menjadi simbol keterpurukan Sriwijaya FC dalam musim yang penuh tantangan.

Hasil memalukan ini sekaligus menjadi bahan evaluasi besar bagi manajemen Sriwijaya FC dalam menatap musim depan. (*)