Truestorysports – Penunjukan Liam Rosenior sebagai Chelsea hingga 2032 tidak hanya didasarkan pada prestasi terbarunya bersama RC Strasbourg, tetapi juga pada kuat yang ia bangun selama karier kepelatihannya.

Pelatih berusia 41 tahun itu dikenal sebagai detail-oriented, adaptif, dan piawai membangun dengan identitas permainan yang jelas.

Nama Rosenior semakin dikenal luas saat ia bekerja sama dengan Wayne Rooney di County. Keduanya menjalani masa kerja hampir dua tahun sebelum Rooney mengundurkan diri pada Juni 2022.

Dalam podcast BBC miliknya, mantan kapten timnas Inggris itu memberikan pujian tinggi kepada Rosenior.

“Liam adalah pelatih sebaik yang pernah saya ajak bekerja sama. Perhatiannya pada detail dan caranya mendekati aktivitas sehari-hari benar-benar luar biasa. Ia sebaik yang pernah saya ajak bekerja sama,” ujar Rooney.

Rooney juga mengakui peran vital Rosenior dalam perjalanan kepelatihannya di Derby.

“Liam sangat penting bagi saya. Ia luar biasa dalam kemampuan melatih. Saya lebih berperan sebagai manajer dan berurusan dengan pemain serta hal-hal lainnya, jadi saya banyak belajar darinya dari sudut pandang kepelatihan. Saya pikir ia telah melakukan pekerjaan yang hebat secara keseluruhan,” tambahnya.

Secara , Rosenior dikenal sebagai pelatih dengan pendekatan penguasaan bola dan orientasi menyerang. Saat menangani Strasbourg, tim asuhannya tercatat sebagai salah satu yang paling jarang menggunakan umpan panjang di lima liga top ini. Rosenior lebih memilih timnya membangun serangan dari lini belakang secara terstruktur.

Fleksibilitas taktik juga menjadi salah satu keunggulan Rosenior. Sepanjang karier kepelatihannya, ia terbukti mampu beradaptasi dengan kebutuhan tim, bergantian menggunakan formasi empat bek maupun tiga bek sesuai situasi pertandingan.

Kejelian taktik tersebut turut terlihat pada kekuatan bola mati Strasbourg, yang musim lalu mencetak gol terbanyak dari situasi sepak pojok di sekaligus menjadi tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit dari skema tersebut.

Selain aspek taktik, Rosenior juga mendapat banyak pujian atas kemampuannya mengembangkan pemain muda dan membangun etos tim yang kuat.

Sejumlah nama seperti Liam Delap, Fabio Carvalho, dan Tyler Morton menunjukkan perkembangan signifikan saat menjalani masa peminjaman ke Hull City di bawah asuhannya pada fase awal karier mereka.

Di Strasbourg, Rosenior konsisten mempercayai pemain-pemain muda. Klub Prancis tersebut kerap menurunkan sebelas pemain inti di Ligue 1, namun tetap mampu merepotkan tim-tim papan atas.

Bukti nyatanya, Strasbourg secara mengejutkan menaklukkan Paris Saint-Germain dengan skor 2-1 pada Mei lalu, serta menahan imbang juara Eropa dengan skor 3-3 beberapa bulan sebelumnya.

Dengan kombinasi filosofi menyerang, fleksibilitas taktik, dan rekam jejak dalam membina talenta muda, Chelsea berharap Liam Rosenior mampu memaksimalkan potensi skuad The Blues.

Di bawah proyek jangka panjang yang diusung klub, Rosenior diharapkan tak hanya menjaga identitas Chelsea, tetapi juga membawa mereka kembali menjadi penantang serius gelar di Inggris dan Eropa.