Aksi tersebut membuat laga terhenti cukup lama. Situasi baru mereda setelah kapten Senegal, Sadio Mane, membujuk rekan-rekannya untuk kembali ke lapangan dan melanjutkan pertandingan.
Namun, momentum emas Maroko sirna. Brahim Diaz yang maju sebagai eksekutor gagal menjalankan tugasnya dengan baik.
Tendangan penalti bergaya panenka yang ia lepaskan terbaca dengan sempurna oleh kiper Senegal, Edouard Mendy, yang sukses melakukan penyelamatan krusial.
Skor kacamata 0-0 bertahan hingga waktu normal berakhir, memaksa laga dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.
Senegal akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-94. Pape Gueye menjadi pahlawan Singa Teranga setelah menyelesaikan skema serangan apik dengan sepakan kaki kiri terukur yang tak mampu dihalau penjaga gawang Maroko.
Gol tersebut menjadi satu-satunya pembeda hingga peluit panjang dibunyikan.
Senegal pun kembali mengangkat trofi Piala Afrika, mengulang sukses yang terakhir kali mereka raih pada edisi 2022.
Sebaliknya, kekalahan ini memperpanjang penantian Maroko untuk kembali merasakan gelar juara Afrika.
Sudah 50 tahun berlalu sejak terakhir kali Atlas Lions dinobatkan sebagai raja sepak bola Benua Hitam, dan harapan itu kembali tertunda di hadapan publik sendiri. (*)