Pertarungan kontra Pampellone menjadi langkah krusial untuk mewujudkan ambisinya meraih sabuk juara dunia.
Di sisi lain, Jerome Pampellone bukan lawan yang bisa dianggap enteng. Petinju kelahiran London yang kini berbendera Selandia Baru ini tengah berupaya bangkit setelah menelan dua kekalahan tipis pada 2024. Namun, ia mengirim sinyal kuat dengan kemenangan KO di ronde pertama atas Plaisakda Boonmalers di Thailand pada laga terakhirnya.
Dengan usia yang lebih muda (28 tahun) dan semangat penebusan, Pampellone siap memberi perlawanan sengit untuk mengamankan tiket emas menuju perebutan gelar dunia.
“Laga ini menawarkan pertaruhan besar, yakni jalur langsung ke sabuk juara dunia dan kesempatan mengukir nama dalam sejarah kelas berat ringan,” tegas WBA.
Pertarungan ini juga menjadi bagian dari inisiatif global WBA yang membawa ajang kelas dunia ke Libya sebagai bentuk ekspansi historis dalam mempromosikan tinju di Afrika Utara. Melalui program WBA Future, asosiasi ini ingin menjadikan tinju sebagai alat perubahan sosial, pendidikan, dan perdamaian.
“Taruhannya sangat tinggi, dan Libya bersiap untuk malam penuh gemerlap kelas dunia,” tutup pernyataan resmi WBA. (*)