Tak hanya bersama PSM, almarhum juga merasakan manisnya prestasi saat mengantar Arema menjuarai Galatama XII 1992/1993, serta membawa Persik Kediri meraih gelar juara pada 2003.
Catatan prestasi tersebut menegaskan reputasinya sebagai pemain bermental juara di berbagai klub.
Di lapangan, Kuncoro dikenal sebagai pemain serba bisa. Ia mampu tampil sebagai bek kanan, stoper, hingga gelandang, dengan karakter permainan yang tangguh, disiplin, dan tanpa kompromi. Sikap profesional itu pula yang membuatnya dihormati kawan maupun lawan.
Kontribusinya juga tercatat di level internasional. Kuncoro pernah memperkuat Timnas Indonesia pada Piala Kemerdekaan 1994 bersama PSSI Harimau, serta Piala Tiger 1998, menjadi bagian dari generasi pesepak bola yang mewarnai perjalanan sepak bola nasional.
Usai gantung sepatu, Kuncoro kembali mengabdi kepada Arema FC sebagai asisten pelatih, bahkan beberapa kali dipercaya mengemban tugas sebagai caretaker tim.
Dedikasinya yang panjang menjadikan Kuncoro bukan sekadar bagian dari klub, melainkan simbol loyalitas dan pengabdian.
Kepergian Kuncoro menjadi kehilangan besar, bukan hanya bagi Arema FC, tetapi juga bagi PSM Makassar dan seluruh keluarga besar sepak bola Indonesia.
Sosoknya yang rendah hati, humoris, dan penuh dedikasi akan terus dikenang sebagai insan sepak bola sejati. (*)