Truestorysport – Presiden FIFA, Gianni Infantino, menegaskan bahwa tidak ada tempat bagi rasisme dalam sepak bola maupun di masyarakat luas. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul dugaan insiden rasisme yang menimpa Vinicius Junior dalam laga leg pertama Liga Champions 2025/26 antara Benfica dan Real Madrid.
“Tidak ada tempat untuk rasisme dalam olahraga kita dan dalam masyarakat. Kita membutuhkan semua pihak terkait untuk mengambil tindakan dan meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab,” tegas Infantino.
Laga Sempat Dihentikan
Insiden tersebut terjadi setelah Vinicius mencetak gol tunggal yang membawa Real Madrid menang 1-0 di markas Benfica. Pertandingan sempat dihentikan beberapa menit setelah pemain asal Brasil itu melaporkan dugaan tindakan rasis oleh pemain Benfica, Gianluca Prestianni, kepada wasit.
Wasit pertandingan, Francois Letexier, kemudian mengaktifkan protokol resmi anti-rasisme dengan menghentikan laga sementara guna meredakan situasi.
Infantino mengaku terkejut dan sedih atas kejadian tersebut. Melalui unggahan Instagram Story pada Kamis, ia menyampaikan solidaritas terhadap Vinicius serta menyerukan langkah tegas dari seluruh pemangku kepentingan sepak bola.
“Saya terkejut dan sedih melihat dugaan insiden rasisme terhadap Vinicius Junior dalam pertandingan Liga Champions UEFA antara Benfica dan Real Madrid,” ujarnya.
Komitmen Global Melawan Diskriminasi
Infantino menegaskan bahwa FIFA terus berkomitmen memerangi rasisme melalui berbagai inisiatif global, termasuk kampanye Global Stand Against Racism dan Player Voice Panel.
Menurutnya, FIFA akan terus memastikan perlindungan bagi pemain, ofisial, maupun suporter dari segala bentuk diskriminasi.
Ia juga memuji keputusan cepat wasit Letexier yang menghentikan pertandingan dan menggunakan isyarat resmi anti-rasisme sebagai langkah preventif di lapangan.
Dalam pernyataannya, Infantino kembali menegaskan sikap tanpa kompromi terhadap rasisme.
“Saya akan selalu terus mengulanginya: Tidak untuk rasisme! Tidak untuk segala bentuk diskriminasi!” tegasnya.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa upaya pemberantasan rasisme di sepak bola masih menjadi pekerjaan bersama, yang membutuhkan komitmen kuat dari federasi, klub, pemain, hingga suporter di seluruh dunia.