Palu, — menyayangkan keputusan pembatalan penunjukan dirinya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Askab dan penggantiannya dengan Iptu Sutrisno.

Ifan menilai proses pergantian tersebut perlu dipertanyakan, terutama dari sisi etika organisasi. Ia bahkan menduga keputusan itu tidak terlepas dari kepentingan politik.

Selama menjalankan mandat sebagai Plt Ketua Donggala, Ifan mengaku telah menjalankan sejumlah tanggung jawab organisasi, termasuk mempersiapkan tim bola Donggala menghadapi Pekan Olahraga (Porprov) X Sulawesi Tengah di Kabupaten Morowali, Desember 2026.

Menurutnya, proses persiapan tersebut telah berjalan, salah satunya melalui seleksi di wilayah Kabupaten Donggala.

Ifan menyebut proses seleksi dilakukan secara terbuka dan transparan. Bahkan, para pelatih yang terlibat dalam proses tersebut disebut belum menerima honor, namun tetap menjalankan tugas karena memiliki kepedulian terhadap perkembangan sepak bola Donggala.

“Mengurus sepak bola Porprov itu membutuhkan dana besar. Jujur saja, pelatih-pelatih yang bertugas menyeleksi pemain di empat wilayah itu belum sepeser pun saya beri honor. Mereka bekerja dengan passion karena ingin membangun sepak bola Kabupaten Donggala,” ujar Ifan.

Ia menegaskan, selama menerima mandat sebagai Plt Ketua Askab PSSI Donggala, seluruh tugas yang diberikan telah dijalankan secara terbuka dan sesuai tanggung jawab organisasi.

Karena itu, Ifan mempertanyakan apabila benar telah diterbitkan SK pembatalan terhadap penunjukan dirinya. Menurut dia, pergantian tersebut semestinya dilakukan dengan memperhatikan etika dan mekanisme organisasi.

“Seandainya benar ada SK pembatalan, menurut saya itu tidak beretika dalam berorganisasi. Ini murni dipolitisasi. Saya juga belum membaca statuta terkait hal itu,” katanya.»

Ifan juga menyoroti progres persiapan Donggala menuju Porprov X Sulteng. Ia menyebut Donggala menjadi salah satu daerah yang telah menjalankan proses seleksi pemain secara terbuka di tengah dinamika pergantian kepengurusan.

Menurutnya, proses tersebut dapat dipantau langsung oleh masyarakat sehingga tidak ada yang perlu ditutup-tutupi.

“Semenjak pergantian Plt Sekum, dari 12 kabupaten/kota, Donggala sudah berjalan dan terbuka. Semua orang bisa melihat proses seleksinya. Artinya, saya menjalankan tanggung jawab,” tegasnya.

Ia menilai proses dan persiapan atlet seharusnya menjadi perhatian utama, terlebih Porprov X Sulteng sudah semakin dekat.

Ifan berharap dinamika internal organisasi tidak mengganggu persiapan atlet Donggala yang telah berjalan.

Ia juga menyayangkan apabila persoalan organisasi justru ditarik ke ranah politik. Menurutnya, sepak bola seharusnya menjadi ruang untuk membangun prestasi dan pembinaan atlet, bukan kepentingan kelompok tertentu.

“Ini bukan lagi urusan membangun organisasi sepak bola. Susah kalau tidak punya passion di olahraga, tetapi justru menjadikannya urusan politik. Mereka tidak menjaga, malah menghancurkan marwah olahraga. Bagi saya, ini murni kepentingan politik,” pungkasnya.

Pernyataan Ifan tersebut menjadi sorotan di tengah keputusan PSSI Sulawesi Tengah menerbitkan kembali SK Plt Ketua Askab PSSI di sejumlah kabupaten. Pergantian tersebut diharapkan tidak mengganggu persiapan kontingen daerah menghadapi Porprov X Sulteng di Morowali pada Desember 2026.