Truestorysport – Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter menyatakan dukungannya terhadap seruan boikot pertandingan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat.
Dukungan tersebut didasari kekhawatiran terkait faktor keamanan bagi para suporter yang berencana hadir langsung di lokasi pertandingan.
Mengutip laporan The Guardian, Selasa (27/1), Blatter menilai keraguan atas aspek keamanan menjadi alasan yang wajar bagi penggemar sepak bola untuk mempertimbangkan kembali perjalanan mereka ke Amerika Serikat selama turnamen berlangsung.
Blatter secara terbuka mendukung pernyataan Mark Pieth, pengacara antikorupsi asal Swiss yang sebelumnya bekerja sama dengan FIFA dalam program reformasi ketika Blatter masih menjabat sebagai presiden federasi sepak bola dunia tersebut.
Pieth sebelumnya menyarankan agar suporter sepak bola tidak bepergian ke Amerika Serikat selama Piala Dunia 2026.
“Saya pikir Mark Pieth benar mempertanyakan Piala Dunia ini,” tulis Blatter melalui akun media sosialnya.
Dukungan Blatter muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap situasi keamanan di Amerika Serikat, menyusul kabar meninggalnya warga negara AS kedua, Alex Pretti, pada akhir pekan lalu.
Meski tidak dijelaskan secara rinci keterkaitan peristiwa tersebut dengan penyelenggaraan Piala Dunia, kasus itu dinilai memperkuat kecemasan sebagian kalangan.
Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 dan akan diselenggarakan secara bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Dalam wawancara dengan harian Swiss Tages-Anzeiger pekan lalu, Pieth turut menyoroti kondisi politik dan sosial di Amerika Serikat.
Ia menilai dinamika domestik, termasuk dugaan marjinalisasi lawan politik serta penyalahgunaan wewenang oleh otoritas imigrasi, berpotensi menimbulkan rasa tidak aman bagi penggemar sepak bola dari luar negeri.
“Untuk para penggemar, satu saran saja: hindari Amerika Serikat. Anda akan mendapatkan pemandangan yang lebih baik lewat televisi,” ujar Pieth.
Ia juga memperingatkan bahwa suporter asing yang tetap datang ke Amerika Serikat harus siap menghadapi risiko dipulangkan jika dinilai tidak mematuhi aturan atau kebijakan otoritas setempat.
Sepp Blatter sendiri mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden FIFA pada 2015, menyusul berbagai skandal yang melanda organisasi tersebut.
Posisinya kemudian digantikan oleh Gianni Infantino, yang diketahui memiliki hubungan dekat dengan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pada tahun lalu, Blatter bersama mantan Presiden UEFA Michel Platini secara definitif dibebaskan dari seluruh tuduhan hukum terkait pembayaran tertunda sebesar 2 juta franc Swiss yang dilakukan FIFA kepada Platini pada 2011 untuk jasa konsultasi. (*)