Truestorysport – Olimpiade Musim Dingin Milano–Cortina 2026 kembali menempatkan Cortina d’Ampezzo sebagai pusat perhatian dunia. Kota kecil di kawasan Alpen Italia ini bukan hanya menghadirkan persaingan olahraga salju kelas dunia, tetapi juga memadukan sejarah panjang Olimpiade dengan inovasi modern serta kekayaan budaya lokal yang unik.
Cortina d’Ampezzo memiliki tempat istimewa dalam sejarah Olimpiade. Kota ini pernah menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 1956, dan 70 tahun kemudian kembali dipercaya menggelar ajang olahraga terbesar musim dingin tersebut.
Kembalinya Cortina pada edisi 2026 menjadi simbol kesinambungan antara masa lalu dan masa depan olahraga musim dingin di Italia, dengan sejumlah venue bersejarah yang masih dikenang sebagai ikon kejayaan Olimpiade.
Milano–Cortina 2026 juga mencatat sejarah baru dengan konsep dua kota tuan rumah. Milan akan menjadi pusat pertandingan olahraga dalam ruangan, sementara Cortina d’Ampezzo menjadi panggung utama cabang-cabang olahraga luar ruang seperti ski dan bobsleigh. Kolaborasi ini mencerminkan pendekatan modern Olimpiade yang menghubungkan dinamika kota metropolitan dengan lanskap pegunungan Alpen.
Ajang ini diproyeksikan diikuti sekitar 2.900 atlet dari kurang lebih 90 negara. Mereka akan bersaing dalam 116 nomor lomba yang tersebar di 16 cabang olahraga musim dingin, termasuk sejumlah nomor baru yang untuk pertama kalinya dipertandingkan di Olimpiade. Skala partisipasi tersebut menegaskan posisi Milano–Cortina 2026 sebagai salah satu Olimpiade Musim Dingin terbesar dalam sejarah.
Di balik kemegahan tersebut, tantangan global turut mewarnai penyelenggaraan. Perubahan iklim menjadi perhatian serius, terutama dengan meningkatnya suhu musim dingin di kawasan Cortina dalam beberapa dekade terakhir. Untuk menjaga kualitas lintasan dan kelancaran kompetisi, penyelenggara harus mengandalkan produksi salju buatan dalam jumlah besar.
Kuliner Khas dan Budaya
Tak hanya soal olahraga, Olimpiade juga menjadi panggung promosi budaya dan pariwisata lokal. Kuliner khas Cortina ikut mencuri perhatian dunia, salah satunya casunziei all’Ampezzana, ravioli isi bit yang berakar dari tradisi masyarakat Ladin. Hidangan ini kerap disorot media internasional dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
Momentum Olimpiade dimanfaatkan komunitas Ladin untuk memperkenalkan identitas budaya mereka ke tingkat global. Berbagai sudut kota dihiasi bendera Ladin, disertai kampanye informasi mengenai bahasa dan warisan budaya setempat, menjadikan Olimpiade sebagai ruang pengakuan budaya, bukan sekadar ajang olahraga.