Truestorysport – Nama Stephane Guivarc’h mungkin tidak sepopuler Zinedine Zidane atau Thierry Henry dalam kejayaan Prancis di Piala Dunia 1998. Namun, mantan penyerang tersebut merupakan bagian penting dari skuad Les Bleus yang sukses meraih gelar dunia pertama di kandang sendiri.

Menariknya, setelah memutuskan pensiun dari pada usia yang masih relatif muda, Guivarc’h memilih menjalani kehidupan yang jauh dari sorotan publik. Selama hampir dua dekade terakhir, ia bekerja sebagai tenaga penjual kolam dan menolak berbagai tawaran untuk tetap berkecimpung di dunia sepak bola.

Bersinar Sebelum Piala Dunia, Mandul di Turnamen

Menjelang Piala Dunia 1998, Guivarc’h sedang berada di puncak performanya. Bersama Auxerre, ia mencetak 37 gol di semua kompetisi dan digadang-gadang menjadi mesin gol utama Prancis pada turnamen yang berlangsung di negara sendiri.

Namun, kenyataan berkata lain. Dalam enam pertandingan di Piala Dunia, Guivarc’h mencetak satu gol pun. Beban mencetak gol akhirnya dipikul oleh -pemain lain seperti Thierry Henry, Zinedine Zidane, dan Emmanuel Petit yang membawa Prancis menjadi juara dunia.

Dalam wawancara dengan RMC Sport pada 2023, Guivarc’h mengaku kegagalannya mencetak gol di Piala Dunia masih membekas hingga kini.

“Anda terus memikirkannya. Ini adalah Piala Dunia di Prancis. Anda mencetak 37 gol sepanjang musim, tetapi ketika turnamen dimulai justru seperti kehilangan sentuhan,” ujarnya.

Ia menilai itulah uniknya sepak bola. Menurutnya, Lilian Thuram yang hampir tidak pernah mencetak gol justru menjadi pahlawan dengan dua gol di semifinal.

Stephane Guivarc’h

Karier di Newcastle Tak Berjalan Mulus

Meski tampil kurang meyakinkan di Piala Dunia, performa Guivarc’h tetap menarik perhatian Newcastle United. Klub itu memboyongnya dengan nilai transfer sekitar 3,6 juta poundsterling.

Guivarc’h sempat mencetak gol pada laga debut melawan Liverpool. Namun, kariernya di Inggris tidak berlangsung lama. Setelah pergantian dari Kenny Dalglish ke Ruud Gullit, ia kesulitan mendapatkan tempat dan akhirnya dijual ke Rangers hanya beberapa bulan kemudian.

Bersama klub asal Skotlandia tersebut, Guivarc’h berhasil meraih treble sebelum kembali ke Auxerre pada 1999. Ia kemudian mengakhiri karier profesionalnya pada 2002 setelah sempat memperkuat Guingamp.

Menolak Jadi Pengamat, Pilih Jualan Kolam Renang

Stephane Guivarc’h kini jadi sales kolam renang. (Foto: Instagram)

Berbeda dengan banyak mantan pesepak bola yang beralih menjadi pelatih atau pengamat pertandingan, Guivarc’h justru memilih meninggalkan dunia sepak bola sepenuhnya.

Setelah pensiun, ia menerima tawaran dari seorang sahabat yang mendirikan perusahaan pembangunan kolam renang. Awalnya ia hanya berniat membantu sementara, tetapi pekerjaan tersebut justru menjadi profesi utamanya hingga sekarang.

“Saya sudah bekerja di bidang kolam renang selama 17 tahun. Awalnya hanya membantu teman, tetapi akhirnya menjadi pekerjaan tetap,” kata Guivarc’h.

Ia mengaku menikmati kehidupan barunya yang jauh dari sorotan .

“Saya berada di jalan sepanjang hari untuk bekerja, lalu malam hari kembali ke rumah. Kehidupan saya seimbang. Saya tidak merasa harus selalu berada di depan kamera atau mikrofon,” tuturnya.

Emmanuel Petit Ingin Bertemu Kembali

Mantan rekan setimnya di tim nasional Prancis, Emmanuel Petit, mengaku rindu kepada Guivarc’h yang selama bertahun-tahun memilih menjauh dari komunitas juara dunia 1998.

Dalam wawancaranya bersama L’Equipe, Petit mengatakan bahwa nama Guivarc’h kerap muncul setiap kali para pemain juara dunia berkumpul.

“Sudah terlalu lama kami tidak mendengar kabarnya. Saya tidak tahu alasan pastinya, tetapi sangat disayangkan jika ia benar-benar memutus hubungan dengan sejarah Piala Dunia,” ujar Petit.

Menurut Petit, pencapaian menjadi juara dunia merupakan ikatan yang akan selalu menyatukan seluruh anggota skuad Prancis 1998.

“Saya ingin bertemu dengannya lagi. Saya yakin bukan hanya saya yang merindukannya karena namanya selalu disebut setiap kali kami berkumpul,” pungkas Petit.

Sumber: Sport Bible