Tahun 2015 menjadi periode kelam sepak bola Indonesia. Pada 2 Mei 2015, memutuskan menghentikan seluruh kompetisi nasional dengan alasan force majeure menyusul pembekuan PSSI oleh FIFA akibat konflik dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Dampaknya, seluruh kompetisi di daerah, termasuk Sulawesi Tengah, ikut terhenti. Palu yang berencana tampil di Indonesia 2015 pun batal berkompetisi.

2016 – Persipal Palu (Liga Nusantara)

Skuad Persipal Liga Nusantara. Foto: Ist

Kompetisi kembali bergulir pada 2016 melalui Liga Nusantara, sebelum kemudian berganti nama menjadi Liga 3. Sulawesi Tengah kala itu hanya diwakili Persipal Palu, yang tampil dominan dan keluar sebagai juara regional.

Partai final regional diwarnai drama dan keributan. Persipal menaklukkan lewat adu penalti 4–2. Diperkuat Nobon KS dan kolega, serta diasuh Coach Kamaluddin, Laskar Tadulako jauh hingga babak besar nasional.

Langkah mereka terhenti setelah kalah tipis 1–2 dari Persiku Kudus, sementara Perseden Denpasar keluar sebagai juara nasional Liga Nusantara 2016.

2017 – Persipal Palu (Era Liga 3)

Skuad Persipal 2017. (Foto: Instagram @Persipal_palu)

2017 menjadi tonggak awal penggunaan nama Liga 3 sebagai kompetisi kasta ketiga nasional. Sulawesi Tengah dibagi ke dalam dua , dan kembali menghadirkan Persipal Palu di partai puncak regional.

Di final, Persipal menaklukkan Persigi Sigi melalui drama adu penalti dengan skor 4–2. yang kala itu diperkuat Aripoch dan kolega serta diasuh Usman Arya kembali menegaskan dominasi regional.

Namun, langkah Persipal terhenti di fase play-off nasional setelah kalah dari Persiter Ternate, sehingga gagal melangkah ke putaran nasional.