Truestorysport – Di sebuah sudut arena megah Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, , seorang bocah kecil berdiri di depan meja berukuran standar internasional.

Tubuhnya terlalu mungil. Di bawah telapak kakinya, sebuah pijakan kecil berwarna merah membantu ia menjangkau meja. Tangannya menggenggam stik, matanya menatap tajam sasaran.

Namanya . Usianya tahun.

Sorotan lampu, sorak penonton, dan deretan pemain junior internasional tak membuat bocah Tolitoli, , itu gentar.

Dengan ekspresi serius tak lazim bagi anak seusianya, Fajar membidik bola.

Satu masuk. Disusul bola berikutnya. Tepuk tangan pun pecah, memenuhi arena Carabao International Open (CIO) 2026 yang digelar pada 4–8 Februari 2026.

Meski langkahnya harus terhenti di babak eliminasi kedua dengan kekalahan tipis, momen itu sudah cukup untuk membuat namanya mencuri perhatian nasional, bahkan dunia.

Kekalahan itu datang pelan, namun terasa berat bagi seorang anak yang baru belajar memahami arti kompetisi.

Air mata Fajar tumpah di tepi meja biliar, sebuah pengingat bahwa di balik keberaniannya berdiri di panggung internasional, ia tetaplah bocah PAUD yang masih belajar mengenal dunia.

Fajar didampingi ayah ikut kejuaraan. (Foto: Aset Pribadi).

Namun tangis itu bukan tanda menyerah.

Fajar tampil di kategori Junior International, berhadapan dengan lawan-lawan berusia 12 hingga tahun, selisih usia hampir satu dekade. Ia tercatat sebagai peserta termuda di seluruh turnamen CIO 2026.

“Kalahnya hill-hill, last game,” ujar sang ayah, Jafar Alamri, mengenang pertandingan putranya. Tipis, nyaris saja.

Darah Biliar dari Tolitoli

Biliar bukan dunia bagi Fajar. Ia adalah putra dari Jafar Alamri, atlet biliar berprestasi asal Tolitoli yang juga memiliki usaha rumah biliar. Dari sanalah segalanya bermula.